Pojok Mazyan

Suku Naga…Belajar Keteguhan dari Mereka

Suku Naga, ini bukanlah cerita sebuah dongeng. Dan tak ada hubungannya sama sekali dengan Naga, ular atau pun hewan melata lainnya. Memang itulah nama suku yang tinggal di sebuah desa di daerah Tasikmalaya, Jawa Barat, tepatnya di desa Neglasari, Kecamatan Selawu.

Dalam kesehariannya masyarakat suku Naga ini boleh dibilang hidup dalam keadaan miskin. Semua bangunan yang ada dalam kampung ini berdinding tepas/seseg (anyaman bambu) beratap ijuk. Cahaya sekedarnya yang menjadi penerang di malam hari berasal dari minyak bakar.

entah bagaimana sekarang di saat harga minyak tanah melambung tinggi. Suasana kampung yang teduh, jauh dari hingar bingar.

Ada sesuatu yang dapat kita ambil ataupun pelajari dari suku Naga ini, yakni tentang kesederhanaan dan keteguhan mereka dalam memegang tradisi nenek moyang yang menjadikan mereka dikenal seperti sekarang ini

Untuk menuju ke perkampungan suku Naga kita harus menuruni anak tangga sekitar 500-an meter, lantaran letaknya memang di bawah jalan propinsi yang menghubungkan Tasikmalaya-Bandung (lewat Garut). Uniknya lagi semua rumah berukuran sama alias seragam, 5×8 meter. Bangunan rumah yang semuanya berdinding tepas/seseg yang dikapur putih ini berdiri di lembah yang diapit dua perbukitan yang membujur dari timur ke barat.

Dalam keseharian mereka, selain berpegang pada ajaran Islam, suku Naga juga teguh kepada adat karuhun (nenek moyang) secara turun temurun. Misalkan saja dalam menata perumahan, sudah ada ketentuan dari karuhun yang tidak boleh dilanggar.

Hampir semua rumah yang ada di sini posisinya saling berhadapan denga jarak antar rumah sekitar 2-3 meter, dan semuanya tersusun ngujur (mengarah) timur-barat, tidak ada satu pun yang arahnya utara-selatan. Menurut kepercayaan moyang mereka, rumah yang arahnya utara-aelatan adalah rumah orang yang telah meninggal.

Setiap rumah memiliki dua pintu masuk yang terletak disatu  sisi dinding rumah Pintu pertama menuju ruang tamu, pintu lainnya menembus ruang keluarga, sampai ke dapur. Pintu-pintu itu biasanya berada di utara atau selatan. Alasannya, pintu yang menghadap barat atau timur merupakan jalan masuk bagi orang-orang yang dikubur.

Konon bangunan yang tampak sederhana itu tahan sampai 40 tahun. Makna filosofi mereka untuk membangun rumah yang sederhana tersebut berdasarkan keteguhan mereka untuk tidak merusak lingkungan yang ada. Jangankan menembok rumah, mengganti atap dengan genting saja merupakan pantangan bagi mereka. Karena selain merusak lingkungan, sesungguhnya atap mempunyai fungsi lain, yakni untuk pelindung barang-barang kerajinan anyaman yang disimpan di dalamnya.

Mengenai silsilah suku Naga sendiri amatlah sulit untuk melacaknya. Menurut pengurus/lebe adat yang ada di sana, buku yang mencatat silsilah mereka ikut terbakar ketika gerombolan pemberontak Kartosuwiryo membakar perkampungan mereka di tahun 1956.

Masyarakat suku Naga menganut agama Islam, namun dalam keseharian, mereka masih mempertahankan adat dan tradisi yang turun temurun. Sebagaimana dalam ajaran Islam, ada empat pantangan yang mengikat kehidupan sehari-hari warga, yakni ngawadul (berbicara yang tidak ada gunanya), ngadu (berjudi), ngamadat (mabuk-mabukan), ngawadon (berzina). Siapa yang melanggar sanksinya….dikucilkan.

Sementara dalam acara pernikahan, biasa dilakukan di hadapan pencatat nikah Islam, setelah itu ada lagi upacara di hadapan kuncen/pemuka adat. Memang dalam kehidupan sehari-hari di kampung adat ini ada 3 pemimpin (kakolot) yang mereka patuhi. Yang pertama kuncen, orang yang biasa memimpin upacara adat, lalu punduh (kepala dusun), dan lebe, yakni orang yang mengurus jenazah bila ada warga yang meninggal.

Falsafah hidup karuhun dijadikan pegangan hidup sehari-hari, yaitu hidup damai dan menjauhi perselisihan. Falsafahnya diungkap dalam kata-kata Sunda, yang maknanya walau pun mendapat hinaan usahakan dengan tetap eling(ingat).Ajaran Sembah Dalem Singaparna, leluhur pujaan mereka menjadi pegangan hidup yang terus dipertahankan oleh suku Naga. Usahakan selalu menjauhi kehidupan material yang bisa mencelakakan. Tidak boleh sombong dan tidak boleh lebih dari yang lain.

Demikian patuhnya mereka pada peninggalan leluhur sehingga sampai sekarang pun masyarakat suku Naga bersikukuh hanya mau menanam padi buhun, padi jenis asli yang ditanam moyang mereka, yang tentu saja sudah  mulai langka di tanah Pasundan sekali pun. Mereka belum mau menanam padi jenis varietas baru.

Kalau kita lihat hamparan sawah yang membentang, akan kita lihat rumpun padi yang tinggi-tinggi dari jenis ‘kuno’ seperti Ceure, Gantang, Jamlang, Lokcam, Sesrek. Meskipun dalam setahun mereka hanya bisa memanen 2 kali, sedang pada jenis varietas baru bisa 3 kali dalam setahun. Menurut mereka hal ini dikarenakan rasa beras buhun jauh lebih enak. Dan proses untuk mendapatkan beras yang enak mereka lakukan dengan cara menumbuk padi, bukan digiling. Karena itulah di penjuru kampung, banyak kita temui tempat penumbukan padi bersama.

Karuhun juga mewanti-wanti, kalau ada  pohon yang tumbang di sekitar hutan Biuk dan Leuweung, yakni hutan yang sangat mereka keramatkan, sehingga tak sembarang warga boleh memasukinya, maka kayu-kayu itu dibiarkan saja membusuk, sama sekali tidak boleh dijamah. Untuk kayu bakar mereka mengambil dari ranting pohon atau pun sisa-sisa tanaman di ladang. Semua itu mereka lakukan untuk menjaga kelestarian hutan.

Oouppsss…seandainya kita mempunyai pemikiran dan cara pandang yang sama dengan mereka dalam menjaga dan melestarikan lingkungan budaya yang ada …damai dan sejahteralah Indonesia.

Leave a Reply